Busana Menak Sunda dan Sejarah Manonjaya
Busana para Menak Sunda pada masa itu mendapat pengaruh kuat dari budaya Mataraman. Sekitar tahun 1892, di Manonjaya, terdapat sebuah potret bersama dalam acara pernikahan cucu Bupati Sukapura (sekarang Tasikmalaya) dengan seorang pangeran dari Keraton Surakarta Hadiningrat.
Dalam foto tersebut, tampak berdiri di baris kedua, tepat di belakang anak-anak, dari kanan ke kiri:
1. RAA. Wirahadiningrat (Bupati Sukapura)
2. K.P. Aryo Mataram dari Surakarta
3. Pangeran Arya Surya Atmaja (Bupati Sumedang)
Sementara itu, di barisan paling belakang hadir pula:
1. RMA. Cokrowerdoyo (Bupati Cilacap)
2. RAA. Kusumasubrata (Bupati Galuh, sekarang Ciamis)
Pada masa tersebut, Manonjaya masih menjadi ibu kota Kabupaten Sukapura. Namun pada 1 Oktober 1901, ibu kota dipindahkan ke wilayah Tasikmalaya, karena letak Manonjaya dianggap kurang strategis sebagai pusat pengumpulan hasil perkebunan di sekitar Gunung Galunggung.
Akhirnya, pada tahun 1913, nama Kabupaten Sukapura diubah menjadi Kabupaten Tasikmalaya, yang kita kenal hingga kini.
----------------
----------------
Pengaruh Bahasa dan Budaya Jawa di Tanah Sunda
Karel Frederik Holle, pemilik perkebunan di Garut sekaligus peneliti budaya dan penasihat pemerintah Hindia Belanda, pernah menyatakan:
“Bahasa Jawa telah resmi di wilayah Sunda sejak wilayah itu berada di bawah kekuasaan Dinasti Jawa.”
Sastrawan Sunda abad ke-19, Raden Haji Moehamad Moesa, juga menulis:
“Sebelum abad ke-19, bahasa Sunda tidak begitu dikenal di kalangan Eropa, serta tergusur eksistensinya oleh kebudayaan Jawa.”
Seorang misionaris Protestan Belanda, Sierk Coolsma, melalui penelitian kamusnya, membandingkan 400 kosakata halus dan 400 kosakata kasar antara bahasa Sunda dan Jawa. Hasilnya menunjukkan bahwa 300 kosakata halus dan 275 kosakata kasar dalam bahasa Sunda berasal dari bahasa Jawa. Namun dalam praktik sehari-hari, kedua jenis kosakata itu digunakan secara berdampingan.
De Haan (1912, jilid 4, hlm. 513) menulis:
“Bagi kaum menak Sunda, bahasa Jawa dianggap lebih ‘tinggi’ dan lebih ‘halus’ daripada bahasa mereka sendiri.”
Roorda (dalam Wilde, 1841: x–xi) juga mencatat:
“Para bupati di wilayah Sunda lebih suka menggunakan bahasa Jawa dalam korespondensi di antara mereka. Bahkan, surat yang biasanya ditulis dalam bahasa Sunda, jika ditujukan kepada seorang bupati, harus ditulis dalam bahasa Jawa.”
Sementara itu, Berge (1993: hlm. 16–17) menambahkan:
“Jika kaum menak Sunda menerima surat berbahasa Sunda, mereka menganggapnya sebagai penghinaan.”
----------------
----------------
Jejak Trah Mataram di Priangan
Tidak hanya itu, Embah Dalem Mangkubumi, seorang priyayi utusan Raja Sultan Agung dari Kerajaan Mataram, konon enggan kembali ke Mataram karena jatuh hati pada seorang gadis lokal di tanah Sunda.
Jejak ini menunjukkan bahwa trah elit Sunda di wilayah Priangan sebenarnya banyak memiliki darah campuran Mataram dan Cirebon. Tak heran bila banyak keluarga bangsawan Sunda menyandang gelar “Raden” dalam nama mereka — suatu penanda bahwa mereka adalah keturunan campuran, bukan Sunda asli sepenuhnya.
regional/read/4147862/pagi-menyusuri-romantisme-mataram-dan-belanda-di-desa-cinta-garut

Tidak ada komentar:
Posting Komentar