Selasa, 04 November 2025

DEMAK, PEWARIS BUKAN PENGHANCUR MAJAPAHIT

 Demak, Pewaris Bukan Penghancur Majapahit



Dalam senyapnya masa akhir abad ke-15, tanah Jawa menyaksikan satu babak besar perubahan. Di barat laut, sebuah kerajaan baru bangkit—Demak. Dan di timur, Majapahit, kerajaan besar yang pernah menyatukan Nusantara, perlahan kehilangan sinarnya. Banyak yang mengira, kejatuhan Majapahit terjadi karena munculnya Demak. Namun sejarah yang ditulis oleh para ahli berkata sebaliknya: Majapahit runtuh oleh luka dari dalam dirinya sendiri.


Majapahit berdiri megah sejak tahun 1293 M di bawah Raden Wijaya. Di masa Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, wilayahnya membentang luas, dari Sumatra hingga Maluku. Namun, setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, kejayaan itu mulai retak. Sejarawan Slamet Muljana menulis bahwa setelah wafatnya sang raja, muncul perebutan kekuasaan antara dua garis keturunan—Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi. Pertikaian itu dikenal sebagai Perang Paregreg (1405–1406 M), perang saudara yang menumpahkan darah bangsawan dan melemahkan jantung kerajaan.


Perpecahan internal ini menjadi titik awal kehancuran Majapahit. Sistem pemerintahan goyah, daerah taklukan melepaskan diri, dan perdagangan merosot tajam. Catatan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern menjelaskan bahwa faktor ekonomi dan perubahan jalur perdagangan internasional turut mempercepat kemunduran itu. Setelah Selat Malaka dikuasai oleh Kesultanan Malaka, perdagangan rempah Nusantara tidak lagi melalui pelabuhan Majapahit.


Bencana alam pun ikut memperburuk keadaan. Letusan gunung berapi dan banjir di dataran rendah Jawa Timur membuat wilayah pertanian rusak. Dalam situasi kacau inilah, sisa-sisa kekuatan Majapahit mencoba bertahan di bawah Brawijaya V, raja terakhir yang disebut dalam naskah Pararaton. Namun kekuasaan Majapahit sudah rapuh, istananya di Trowulan akhirnya ditinggalkan sekitar tahun 1478 M.


Barulah beberapa dekade kemudian, di tanah Demak, muncul sosok Raden Patah, seorang bangsawan muda yang diyakini masih memiliki hubungan darah dengan Brawijaya. Ia mendirikan Kesultanan Demak, bukan untuk menghancurkan Majapahit, melainkan untuk melanjutkan warisan politik dan budaya Nusantara dalam wajah baru: kerajaan Islam.


Anthony Reid dalam Southeast Asia in the Age of Commerce menyebut Demak sebagai simbol transisi dari era kerajaan agraris ke maritim, dari Hindu-Buddha ke Islam, dari Majapahit menuju masa baru sejarah Nusantara.


 “Demak bukan penghancur Majapahit,” tulis para sejarawan. “Ia adalah pewarisnya—yang meneruskan semangat persatuan di bawah panji baru.”


Referensi:


1. Slamet Muljana – Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (LKiS, 2005)


2. M.C. Ricklefs – Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 (Serambi, 2008)


3. Anthony Reid – Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680 (Yale University Press, 1988)


4. Pararaton dan Negarakertagama (sumber naskah Jawa Kuno)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BELANDA SIAPKAN KURSI EMPUK, PUTRA PAPUA INI JUSTRU MEMILIH SETIA PADA MERAH PUTIH

 BELANDA SIAPKAN KURSI EMPUK, PUTRA PAPUA INI JUSTRU MEMILIH SETIA PADA MERAH PUTIH Bagi sebagian orang, kekuasaan adalah tujuan akhir. Namu...