Ras Murni Bangsa Palawa yang Terakhir
Kita sering mendengar Barat berbicara lantang tentang “perlindungan terhadap kaum minoritas”. Namun, jika menoleh ke belakang, sejarah justru mencatat bagaimana mereka memusnahkan bangsa-bangsa asli atas nama peradaban. Salah satu kisah paling kelam dari ironi itu terjadi di sebuah pulau kecil di selatan Australia yaitu Tasmania.
Sebelum orang Eropa datang, Tasmania adalah tanah damai. Pulau itu dihuni oleh masyarakat Palawa, suku-suku pribumi yang hidup selaras dengan alam. Mereka tidak mengenal perang, tidak mengenal besi, dan tidak menuntut siapa pun. Yang mereka inginkan hanya satu, dibiarkan hidup tenang di tanah mereka sendiri.
Namun pada awal abad ke-19, kapal-kapal Inggris merapat di pantai selatan pulau itu. Dengan pongah, mereka menyatakan bahwa tanah tersebut adalah “tanah kosong” atau terra nullius dan berhak dijadikan milik Kerajaan Inggris. Dari sinilah tragedi dimulai.
Penjajah datang membawa senjata, penyakit, dan keserakahan. Perlawanan kecil dari orang Palawa dibalas dengan kekerasan brutal. Mereka diburu seperti binatang, diusir dari kampung halamannya, dan dipaksa masuk ke kamp “peradaban”. Banyak yang mati karena kelaparan, penyakit, dan siksaan.
Sejarawan menyebut masa itu sebagai “The Black War” yakni Perang Hitam. Sebuah perang yang menandai awal genosida terhadap seluruh bangsa Palawa. Dari sekitar 15.000 jiwa, hanya segelintir orang yang bertahan hidup.
Di tengah gelapnya masa itu, seorang anak laki-laki berhasil selamat. Namanya William Lanne. Dia lahir sekitar tahun 1835, saat dunia kaumnya hampir punah. Sebagai anak yatim piatu, ia dibawa oleh pihak kolonial ke Pulau Flinders, tempat orang-orang Palawa yang tersisa “dipelihara” dalam program yang mereka sebut sebagai pendidikan dan peradaban.
Namun kenyataannya, pulau itu lebih mirip penjara.
Orang-orang Palawa hidup miskin, kelaparan, dan perlahan mati satu per satu. William tumbuh di sana, menyaksikan bagaimana bangsanya menghilang, hingga suatu hari, dia menyadari bahwa hanya dia satu-satunya lelaki Palawa murni yang tersisa di dunia.
Ketika dewasa, William meninggalkan Pulau Flinders dan pindah ke kota Hobart, ibu kota Tasmania. Dia bekerja sebagai pelaut, berpindah dari satu kapal ke kapal lain, mencoba hidup layaknya manusia biasa. Namun di mata orang Eropa, dia bukan manusia yang setara. Dia dianggap sebagai “spesimen terakhir” dari ras yang sebentar lagi punah.
Orang-orang memanggilnya “King Billy”, bukan untuk menghormatinya, tetapi untuk mengejek asal-usulnya. Julukan itu menjadi simbol penghinaan terhadap seluruh bangsanya.
Pada tahun 1869, William Lanne meninggal dunia di usia 34 tahun karena infeksi paru-paru. Tapi bahkan setelah kematiannya, dia tidak dibiarkan tenang.
Dua lembaga di Hobart, yakni Museum Kerajaan Tasmania dan Sekolah Kedokteran setempat, terlibat dalam perebutan menjijikkan atas jenazahnya. Keduanya ingin menggunakan tubuh William sebagai bahan penelitian ras manusia.
Kepalanya dipenggal, tengkoraknya dicuri, dan organ tubuhnya diambil untuk dipelajari demi “ilmu pengetahuan.” Saat itu, banyak ilmuwan Barat percaya pada teori “ras superior”, yang merupakan keyakinan palsu bahwa kulit putih lebih tinggi derajatnya daripada ras lain.
Tragedi William menjadi bukti nyata betapa sains bisa berubah menjadi alat rasisme, ketika manusia kehilangan nuraninya.
Bertahun-tahun kemudian, nama William Lanne menjadi simbol luka bagi masyarakat Tasmania. Pemerintah dan masyarakat kini berusaha menebus dosa sejarah itu, dengan mengenang kisahnya dan menuntut agar jasadnya dimakamkan dengan layak.
Referensi :
- ABC News Australia, “William Lanne: The last Tasmanian man and the dark legacy of scientific racism”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar