Minggu, 09 November 2025

WARGA BADUY DITOLAK BEROBAT DI RUMAH SAKIT SETELAH DIBEGAL KARENA TIDAK PUNYA KTP – BAGAIMANA NEGARA MENJAMIN HAK KESEHATAN MASYARAKAT ADAT

 Warga Baduy ditolak berobat di rumah sakit setelah dibegal karena tidak punya KTP – Bagaimana negara menjamin hak kesehatan masyarakat adat?



Seorang warga suku Baduy mengaku ditolak oleh sebuah rumah sakit saat dirinya mau mengobati tangannya yang terluka. 



Alasannya dia tidak memiliki kartu tanda penduduk (KTP). Pemprov Jakarta membantah dan menyebutnya sebagai miskomunikasi. 


Bagaimanapun ini membuka kembali diskursus soal terbatasnya jaminan kesehatan bagi masyarakat adat di Indonesia.


Seorang warga suku Baduy Dalam bernama Repan terluka usai dibegal sekelompok orang tak dikenal di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (26/10) subuh.


Remaja 16 tahun itu sempat mendatangi salah satu rumah sakit untuk mengobati tangan kirinya yang terluka akibat menangkis sabetan benda tajam pembegal.


Tapi pihak rumah sakit disebut menolak mengobatinya. Alasannya, warga Baduy Dalam itu tidak memiliki kartu tanda penduduk (KTP).


Insiden ini membuka kembali diskursus soal terbatasnya jaminan kesehatan bagi masyarakat adat di Indonesia.


Masyarakat Baduy Dalam seperti Repan, secara adat dilarang memiliki kartu identitas elektronik. Namun, mereka tetap bisa mengakses layanan kesehatan—meski tanpa KTP dan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)—sepanjang masih berada di wilayah Provinsi Banten.


Hanya saja, benefit itu tak berlaku jika mereka bepergian ke luar wilayah Banten dan harus mendapatkan layanan kesehatan, seperti yang dialami Repan.


Pengamat kesehatan mengatakan, pemerintah dan otoritas kesehatan semestinya "lebih kreatif" dalam mengakomodir masyarakat adat seperti Baduy Dalam yang memiliki keunikan budaya tersendiri.


"Jangan sampai administrasi mengalahkan hak perlidungan sosial," kata Koordinator BPJS Watch, Timbul Siregar.


Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Habuwono menyebut, pelayanan kesehatan merupakan hak semua masyarakat "dengan NIK maupun tanpa NIK."


Sementara Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menepis adanya penolakan rumah sakit untuk merawat Repan, menyebut "terjadi miskomunikasi."


Bagaimana kronologi kejadian?


Siapa Suku Baduy?


Apakah masalah serupa juga dialami masyarakat adat lainnya di Indonesia?

PRESIDEN PRABOWO SUBIANTO MEMBUAT GEBRAKAN

 Presiden Prabowo Subianto membuat gebrakan di tahun kedua pemerintahannya. Ia membentuk jaringan teknokrat di lingkar ring satu demi mengeksekusi program-program pro rakyatnya.



Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dan mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (2009-2014) didapuk menjadi penasihat strategis.


Purbaya menjadi tangan kanan Prabowo urusan keuangan hingga persoalan kebocoran anggaran. Sementara Jonan menjadi andalan Prabowo di bidang infrastruktur dan transportasi.


Hal itu merupakan analisis pengamat komunikasi politik, Selamat Ginting, saat bicara di Youtube Forum Keadilan TV, tayang Rabu (5/11/2025).


Prabowo menghadirkan sosok Purbaya untuk menggantikan Sri Mulyani, Menkeu terlama di Indonesia yang menjabat selama 13 tahun, dari era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden ke-7 RI Jokowi.


Sementara, belum lama ini, Prabowo memanggil Jonan ke Istana Kepresidenen, Jakarta pada Senin (3/11/2025).


Di tengah polemik utang jumbo Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh, Jonan berdiskusi dengan Prabowo selama dua jam di Istana.


Selamat Ginting membaca, Jonan tidak lama lagi akan bergabung dengan Kabinet Merah Putih.


"Dalam skala strategis menurut saya Jonan itu difungsinya sebagai difungsikan sebagai misi khusus. Misi khusus Prabowo ini adalah task force untuk sektor transportasi BUMN kemudian apa energi dan bukan tidak mungkin dia akan menjadi menteri utama di situ."


"Prabowo tapi menunjukkan ada kebutuhan finansial baru yang butuh orang segar. Nah, jika Prabowo menghadapi problema besar sekarang sudah ada seorang Purbaya. Maka sekarang ada lagi ada seorang Jonan yang menguasai di bidang infrastruktur transportasi," kata Selamat.


Kehadiran Purbaya dan Jonan, menurut Selamat, menunjukkan Prabowo sedang menggerakkan pemerintahannya berdasarkan pemikiran teknokratis.

Sabtu, 08 November 2025

TOKOH ADAT BADUY MENDESAK POLISI BERTINDAK CEPAT MENANGKAP KAWANAN PERAMPOK

 Tokoh adat Baduy mendesak polisi bertindak cepat menangkap kawanan perampok yang menggasak pedagang madu Baduy Dalam saat berjualan di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, pada akhir Oktober. 



"Baru kali pertama warga Badui menjadi korban kejahatan, tokoh adat mendesak kepolisian segera menangkap pelakunya," kata Sekretaris Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Medi saat dihubungi di Rangkasbitung, Lebak, Kamis (6/11), dikutip dari Antara. Ia juga mengimbau para pelaku untuk menyerahkan diri.


Repan (17 tahun), warga Badui Dalam, menjadi korban perampokan saat berjualan madu di Kawasan Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat pada Minggu (26/10). Pelaku diduga berjumlah empat orang dan mengendarai dua sepeda motor. Pelaku melukai tangan kiri korban serta merampok uang Rp3 juta, satu unit telepon selular, dan 10 botol madu. 


Menurut Medi, Repan berjalan kaki selama tiga hari untuk bisa sampai ke Jakarta, karena adanya larangan adat penggunaan kendaraan bermotor. 

Pihaknya tidak menyangka warganya tersebut menjadi korban kejahatan sebab selama ini berjualan relatif aman.


Kepala Seksi Humas Polres Metro Jakarta Pusat Iptu Ruslan Basuki mengatakan pihaknya masih memburu keempat pelaku.




PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT MERENCAKAN MENGUBAH PERATURAN UJI KENDARAAN

 Pemerintah Provinsi Jawa Barat merencakan mengubah peraturan uji kendaraan bermotor atau KIR yang selama ini dilakukan di unit Dinas Perhubungan (Dishub). Nantinya, pengujian berkala kendaraan ini cukup di bengkel resmi.



Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi pun segera menerbitkan beleid untuk mengatur hal tersebut. Dia mengatakan, Dinas Perhubungan Provinsi dan Kabupaten/Kota terlebih dahulu akan membuat nota kesepakatan dengan dealer dan bengkel resmi untuk menggelar uji KIR.


"Saya akan membuat peraturan untuk mengarahkan KIR itu enggak usah di KIR di Dishub, KIR-nya adalah di bengkel resmi," katanya, Senin (3/11/2025).


Menurutnya, selama ini uji KIR terlalu administratif, dan penghapusan biaya KIR diharapkan menghilangkan peluang oknum petugas untuk menarik keuntungan dari praktik tersebut.


"Di KIR kemudian dan setujui. Apalagi sekarang loh dengan tidak boleh ada biaya di KIR, itu makin malas orang KIR. Penyelenggara pemerintahnya juga malas bikin KIR karena enggak ada lebihnya,".


Kang Dedi menegaskan, bengkel resmi kendaraan nantinya akan menerbitkan surat keterangan. KIR baru bisa dilakukan setelah surat tersebut diterbitkan. Sebab, jika terus menggunakan sistem seperti saat ini, kebanyakan dalam praktinya hanya surat kendaraan yang diperiksa.


"Jadi misalnya mobil Toyota, mobil Hino, ya di bengkel Toyota dan Hino bukan Dinas Perhubungan, karena selama ini yang masuk bukan mobilnya tapi surat-suratnya," jelasnya.


Lebih lanjut Kanng Dedi mengatakan, jika kendaraan tersebut mengalami kecelakaan, maka yang wajib bertanggung jawab adalah bengkel resmi kendaraan tersebut. Pasalnya, uji KIR dilakukan dari bengkel resmi yang mengetahui kondisi dari kendaraan yang telah dikeluarkan.


"Sehingga nanti jika mobilnya mengalami kecelakaan maka yang bertanggung jawab adalah bengkel resmi dari perusahaan mobil tersebut," kata KDM.


Kang Dedi menegaskan, aturan ini ditargetkan bisa terbit pada Januari 2026. Mengingat, saat ini masih dalam kajian dan pemantapan dari rencana tersebut.

BUSANA MENAK SUNDA DAN SEJARAH MANONJAYA

 Busana Menak Sunda dan Sejarah Manonjaya





Busana para Menak Sunda pada masa itu mendapat pengaruh kuat dari budaya Mataraman. Sekitar tahun 1892, di Manonjaya, terdapat sebuah potret bersama dalam acara pernikahan cucu Bupati Sukapura (sekarang Tasikmalaya) dengan seorang pangeran dari Keraton Surakarta Hadiningrat.


Dalam foto tersebut, tampak berdiri di baris kedua, tepat di belakang anak-anak, dari kanan ke kiri:


1. RAA. Wirahadiningrat (Bupati Sukapura)


2. K.P. Aryo Mataram dari Surakarta


3. Pangeran Arya Surya Atmaja (Bupati Sumedang)


Sementara itu, di barisan paling belakang hadir pula:


1. RMA. Cokrowerdoyo (Bupati Cilacap)


2. RAA. Kusumasubrata (Bupati Galuh, sekarang Ciamis)


Pada masa tersebut, Manonjaya masih menjadi ibu kota Kabupaten Sukapura. Namun pada 1 Oktober 1901, ibu kota dipindahkan ke wilayah Tasikmalaya, karena letak Manonjaya dianggap kurang strategis sebagai pusat pengumpulan hasil perkebunan di sekitar Gunung Galunggung.

Akhirnya, pada tahun 1913, nama Kabupaten Sukapura diubah menjadi Kabupaten Tasikmalaya, yang kita kenal hingga kini.


----------------

----------------


Pengaruh Bahasa dan Budaya Jawa di Tanah Sunda


Karel Frederik Holle, pemilik perkebunan di Garut sekaligus peneliti budaya dan penasihat pemerintah Hindia Belanda, pernah menyatakan:


“Bahasa Jawa telah resmi di wilayah Sunda sejak wilayah itu berada di bawah kekuasaan Dinasti Jawa.”


Sastrawan Sunda abad ke-19, Raden Haji Moehamad Moesa, juga menulis:


“Sebelum abad ke-19, bahasa Sunda tidak begitu dikenal di kalangan Eropa, serta tergusur eksistensinya oleh kebudayaan Jawa.”


Seorang misionaris Protestan Belanda, Sierk Coolsma, melalui penelitian kamusnya, membandingkan 400 kosakata halus dan 400 kosakata kasar antara bahasa Sunda dan Jawa. Hasilnya menunjukkan bahwa 300 kosakata halus dan 275 kosakata kasar dalam bahasa Sunda berasal dari bahasa Jawa. Namun dalam praktik sehari-hari, kedua jenis kosakata itu digunakan secara berdampingan.


De Haan (1912, jilid 4, hlm. 513) menulis:


“Bagi kaum menak Sunda, bahasa Jawa dianggap lebih ‘tinggi’ dan lebih ‘halus’ daripada bahasa mereka sendiri.”


Roorda (dalam Wilde, 1841: x–xi) juga mencatat:


“Para bupati di wilayah Sunda lebih suka menggunakan bahasa Jawa dalam korespondensi di antara mereka. Bahkan, surat yang biasanya ditulis dalam bahasa Sunda, jika ditujukan kepada seorang bupati, harus ditulis dalam bahasa Jawa.”


Sementara itu, Berge (1993: hlm. 16–17) menambahkan:


“Jika kaum menak Sunda menerima surat berbahasa Sunda, mereka menganggapnya sebagai penghinaan.”


----------------

----------------


Jejak Trah Mataram di Priangan


Tidak hanya itu, Embah Dalem Mangkubumi, seorang priyayi utusan Raja Sultan Agung dari Kerajaan Mataram, konon enggan kembali ke Mataram karena jatuh hati pada seorang gadis lokal di tanah Sunda.


Jejak ini menunjukkan bahwa trah elit Sunda di wilayah Priangan sebenarnya banyak memiliki darah campuran Mataram dan Cirebon. Tak heran bila banyak keluarga bangsawan Sunda menyandang gelar “Raden” dalam nama mereka — suatu penanda bahwa mereka adalah keturunan campuran, bukan Sunda asli sepenuhnya.


regional/read/4147862/pagi-menyusuri-romantisme-mataram-dan-belanda-di-desa-cinta-garut


R. SAKIRMAN, ELITE PKI YANG DITEMBAK MATI DI SOLO PADA 1966, TERNYATA KAKAK KANDUNG JENDERAL S. PARMAN KORBAN GERAKAN 30 SEPTEMBER 1965

 Ir. Sakirman, elite PKI yang ditembak mati di Solo pada 1966, ternyata kakak kandung Jenderal S. Parman korban Gerakan 30 September 1965




Letnan Jenderal Siswondo Parman menjadi salah satu perwira tinggi Angkatan Darat yang menjadi korban kekejaman Gerakan 30 September 1965. Yang banyak orang tidak tahu, kakak kandung Jenderal Parman, Sakirman, adalah Politbiro Central Committe Partai Komunis Indonesia (PKI).


Sakirman atau Insinyur Sakirman adalah salah seorang petinggi PKI senior ketika G30S meletus. Dia juga dikenal sebagai anggota PKI dari kalangan intelektual.


Sakirman berasal dari keluarga berada. Ayahnya, Kromodihardjo, adalah seprang pengusaha sukses di Wonosobo yang disebut berasal dari keluarga Mangkunegaran. Tak heran jika Sakirman -- juga Parman -- bisa sekolah di sekolah terbaik pada masanya.


Dia sempat mengenyam pendidikan di AMS B (sekarang SMA Negeri 3 Yogyakarta sebelum kemudian melanjutkan di Technische Hoge School (THS) yang sekarang menjadi Institut Teknolo Bandung (ITB). Begitulah Ir. Sakirman memperoleh intelektualitasnya.


Pada 1950-awal, Aidit, Lukman, dan Sudisman menghidupkan lagi PKI yang babak belur pada 1948. Sakirman bergabung di dalamnya dan pada Pemilu 1955 dia lolos ke parlemen -- di sisi lain, sang adik, Siswondo Parman, kariernya semakin moncer di Angkatan Darat, bahkan pada 1960an, dia sudah menjadi jenderal intel kepercaya Ahmad Yani.


Gerakan 30 September 1965 pun meletus dan Siswondo Parman menjadi salah satu korbannya. Di sisi lain, sang kakak, Sakirman, yang adalah orang penting di PKi, masuk daftar orang yang harus ditangkap.


Setelah lari ke sana kemari, Sakirman akhirnya ditangkap di Solo pada Oktober 1966. Karena mencoba melarikan diri, Sakirman pun langsung ditembak mati.

Jumat, 07 November 2025

AGRESI MILITER II PADA 19 DESEMBER 1948

 Setelah Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948, ibu kota Yogyakarta diserang dan para pemimpin Republik Indonesia ditangkap. Namun, Jenderal Sudirman, meskipun sedang sakit parah akibat TBC, menolak menyerah. Ia bersikeras untuk memimpin perang gerilya demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.



Dengan tubuh yang lemah dan paru-paru rusak, Sudirman tetap memimpin pasukannya keluar dari kota. Ia ditandu di atas usungan bambu, menembus hutan, gunung, dan sungai, selama berbulan-bulan di tengah hujan, dingin, dan kelaparan.


Para prajurit sering kali menangis melihat keteguhan beliau, yang tetap tersenyum meski tubuhnya menggigil. Ketika ada yang memintanya berhenti dan beristirahat, Sudirman berkata:


“Selama rakyat masih berjuang, selama itu pula saya akan tetap memimpin.”


Perjalanan gerilyanya berlangsung sekitar 7 bulan (Desember 1948 – Juli 1949). Di tengah penderitaan, semangatnya justru semakin menguatkan para pejuang di seluruh Indonesia untuk terus melawan Belanda.


Ketika akhirnya Belanda terdesak dan mengakui kedaulatan Indonesia, Jenderal Sudirman kembali ke Yogyakarta. Tubuhnya semakin lemah, dan tak lama kemudian, pada 29 Januari 1950, beliau wafat dalam usia muda — 34 tahun.

 

#jendralsoedirman

Kamis, 06 November 2025

PENYEBARAN ISLAM DI ASIA TENGARA

 PENYEBARAN ISLAM DI ASIA TENGARA




NEGARA-NEGARA UTAMA 


Di tempat lain, di negara-negara kota besar, situasi dengan cepat berkembang di mana "raja adalah seorang pagan; para pedagang adalah orang-orang Moor". Beginilah Rui de Brito menggambarkan Brunei pada tahun 1514 (de Sá 1954, I: 68), dan hal yang sama pasti berlaku untuk Samudra pada tahun 1282 (ketika seorang raja non-Muslim mengirim utusan Muslim ke Tiongkok), ke Patani pada abad ke-14 (Hikayat Patani, II: 222), Melaka pada awal abad ke-15, Banjarmasin pada awal abad ke-16, dan Makassar pada akhir abad ke-16 (Hikayat Bandjar 262, 370, 430; dan lihat bab 6). Bahkan di Majapahit abad ke-14 dan Ayudhya abad ke-15 hingga ke-17, pusat-pusat peradaban Buddha yang besar, para pedagang Muslim telah mapan di ibu kota, dan tampaknya memiliki hubungan yang lebih baik dengan istana dibandingkan elemen perdagangan lainnya, termasuk Tionghoa non-Muslim. Namun, pengadilan-pengadilan tersebut memiliki tradisi sakral kerajaan yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam, dan biasanya mereka memandang rendah seluruh komunitas komersial sebagai status yang relatif rendah. Lalu, bagaimana perubahan?


Perkawinan campur antara pedagang kaya atau syahbandar dan kalangan istana telah sering disebutkan dalam hal ini. Namun, dalam arti tertentu, ini merupakan awal dari pertanyaan tersebut. Para penguasa Brahmana-Buddha mungkin dengan mudah mengambil gadis-gadis yang mereka cintai. untuk menerima Islam berada dalam bahaya disalip oleh negara-negara saingan. Samudra-Pasai bukanlah negara pertama di Sumatera Utara yang mengadopsi Islam. Semua sumber sepakat bahwa setidaknya Perlak dan Aru mendahuluinya beberapa tahun. Demikian pula Patani didahului oleh Terengganu dan Melaka oleh tetangganya Pahang belum lagi saingannya yang lebih jauh Pasai (Hikayat Patani I: 3-4). Di Sulawesi Selatan adalah Luwu, yang secara mengejutkan bukan pusat perdagangan tertentu, yang diakui sebagai negara Muslim pertama, beberapa tahun lebih dulu dari Makasar. Di satu sisi, negara-negara Muslim perintis ini pasti telah membantu menjadikan Islam terhormat di mata istana Brahmana yang lebih keras kepala, dalam beberapa kasus bahkan tampaknya menarik anggota saingan dari dinasti yang berkuasa ke pihak mereka. Di sisi lain, mereka menimbulkan bahaya desersi besar-besaran oleh para pedagang Muslim ke pusat alternatif.


Di Jawa dan di Banjarmasin yang telah dijawakan, tekanan dan contoh semacam ini jelas tidak memadai. Dalam beberapa kasus, kauman Muslim, demikian sebutannya sekarang, berhenti setia kepada dinasti penguasa dan memasuki kondisi perang saudara dengan ibu kota saingan. Grisek tampaknya berada dalam kondisi seperti itu pada awal abad ke-16 ketika digambarkan oleh Tomé Pires (1515, 193). Penguasa di satu sisi sungai, Pate Cucuf (Patih Yusuf), lahir di komunitas pedagang Melaka yang berasal dari keturunan campuran Jawa-Melayu, dan memiliki lebih banyak kekayaan dan pasukan. Lawannya di sisi lain sungai, yang pasti telah dikalahkan segera setelah kata-kata ini ditulis, "menunjukkan dirinya sebagai seorang ksatria" (presume de cavaleiro) yang jelas memiliki klaim yang lebih baik atas status priyayi. Di Banjarmasin, panjang Sungai Barito memberikan peluang yang lebih baik bagi elemen-elemen yang bersaing untuk saling menghindar. Raden Samudra, yang diklaim oleh Hikayat Bandjar sebagai keponakan sang penguasa, mendirikan ibu kota saingannya jauh di hilir sungai dekat lokasi Banjarmasin saat ini, dan dengan cepat menarik atau memaksa (Hikayat hanya menyebutkan pemaksaan) para pedagang untuk bergabung dengannya di sana. Setelah itu, hanya selangkah lagi baginya untuk bersekutu dengan pusat Perang Salib Demak, menerima Islam, dan berperang melawan saingannya yang lebih keras kepala dengan bantuan semua elemen Islam ini (Hikayat Bandjar, 45-9, 398-439).


Hampir semua kronik pribumi berupaya keras untuk menetapkan kesinambungan antara penguasa Islam baru dan dinasti-dinasti sebelumnya, terkadang melalui cara-cara yang agak transparan. Di sisi lain, orang Portugis cenderung menekankan asal-usul rendah para penguasa Muslim, khususnya di Jawa. Kebenarannya mungkin lebih dekat dengan yang pertama daripada yang terakhir. Informan Tomé Pires di Jawa kemungkinan besar adalah orang Jawa, dan perkiraan mereka yang rendah tentang leluhur para penguasa pesisir mungkin sebagian merupakan akibat dari persaingan dinasti dan politik.


Tidak diragukan lagi, beberapa pusat Islam, seperti Banten, Grisek, dan mungkin Demak, memang memisahkan diri sepenuhnya dari dinasti Hindu, tetapi sebagian besar negara-negara besar ingin melestarikan tradisi, tidak hanya dalam kronik mereka, tetapi juga dalam upacara, regalia, dan tata krama istana mereka. Aura magis kedaulatan (daulat), yang melingkupi seorang penguasa dengan kredensial yang tepat, merupakan senjata utamanya dalam setiap perebutan takhta. Setidaknya dalam kasus Jawa yang sulit, kita perlu memperhatikan bagaimana Islam mungkin telah menembus lingkaran istana itu sendiri.


ISLAM DAN KERAJAAN MAJAPAHIT 


Menurut tradisi Jawa, yang tercatat dalam berbagai bentuk sejak abad ke-17 dan seterusnya, sumber eksternal utama pengaruh Islam adalah Champa dan Pasai. Tokoh utama dalam kisah-kisah ini adalah Puteri Cempa, putri seorang penguasa Champa yang menjadi pengantin raja Majapahit. Menurut kisah-kisah Jawa, saudara perempuan pangeran ini menikah dengan seorang saudagar Arab kaya di Champa, dan dari pernikahan tersebut lahirlah satu atau dua putra yang menggabungkan syair Islam dengan darah yang mulia. Putra sulung mereka, dalam versi-versi yang memuatnya, pergi ke Jawa untuk menjadi imam di Masjid Grisek. Putra bungsu (atau satu-satunya) adalah Raden Rahmat yang tersohor, yang mengunjungi bibinya di istana Majapahit, di mana ia diterima dengan sangat baik. Akhirnya, ia diizinkan oleh penguasa untuk pergi ke Ampel, dekat Surabaya, untuk mendirikan sebuah komunitas agama dan menjadikan siapa pun yang ia pilih sebagai mualaf (Graaf dan Pigeaud 1974, 19-21; Raffles 1817, II: 115-18).


Dalam satu tradisi, Hikayat Bandjor, Pasai, alih-alih Champa, disebutkan sebagai asal Raden Rahmat. Tradisi Jawa menyebutkan Pasai sebagai asal dua rasul terkenal lainnya di Jawa, Maulana Iskak (ayah Sunan Giri) dan Sunan Gunung Jati, pelopor Islam di Banten dan Cirebon. Namun, hubungan ini tampaknya terjadi lebih lambat daripada Champa, yaitu pada awal abad ke-16 (Graaf dan Pigraud 1974, 170, 111-18). Kutipan Champa dan Pasal dalam catatan-catatan Jawa tentang Islamisasi terlalu sering untuk diabaikan, terutama karena kedua kerajaan tersebut tidak signifikan pada saat catatan-catatan tersebut dicatat. Namun, terdapat masalah bahwa penanggalan Raden Rahmat dan Puteri Champa, yang oleh Pigeaud dan de Graaf ditempatkan pada pertengahan abad ke-15, terlalu terlambat untuk memperhitungkan pertumbuhan pusat-pusat Muslim di Grisek dan Japara sebagaimana dicatat oleh orang Tionghoa, atau menurut catatan-catatan Muslim.


Makam-makam di Troboyo dekat Majapahit, yang mencakup periode 1376-1475. Makam-makam tersebut menunjukkan bahwa di istana Majapahit pada periode awal ini, terdapat Muslim berstatus tinggi yang merupakan orang Jawa atau setidaknya orang asing yang telah dijawakan (Damais 1954, 353-415, Robson 1981, 271-2).


Faktor yang kurang dipertimbangkan dalam pembahasan periode ini dalam sejarah Jawa adalah hubungan antara hubungan eksternal Majapahit dan Islamisasi. Bukti dari Nagarakertagame bahwa para pembayar upeti Raja Hayam Wuruk meluas hingga Sumatra Utara, Malaya, Champa, dan Maluku telah dilihat dari kemungkinan pengaruh Jawa di wilayah-wilayah ini (daftar pembayar upeti terdapat dalam Pigeaud 1960, III: 16-17). Namun, kita tahu dari hubungan "pembayar upeti" dengan Tiongkok, Siam, Melaka, dan tempat-tempat lain bahwa pertukaran tersebut bersifat timbal balik. Hubungan dagang dan reguler antara Majapahit dan kerajaan-kerajaan yang jauh ini memang terjadi, karena hal ini dikonfirmasi oleh sumber-sumber non-Jawa di ujung lainnya (Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Silsilah Raja-Raja Sambas, Hikayat Bandjar) serta berbagai tradisi lisan dari kepulauan timur. Mengingat dominasi Muslim di jalur perdagangan Nusantara, hubungan ini tidak mungkin dipertahankan tanpa menggunakan setidaknya beberapa kapal, pelaut, dan pedagang Muslim. Beberapa negara yang diklaim sebagai wilayah kekuasaan Majapahit adalah Muslim, termasuk Haru, Perlak, Samudra (Pasai), Lamuri, dan Barus di Sumatra, dan mungkin Terengganu di Malaya. Di banyak negara lain, terdapat minoritas Muslim yang signifikan dalam perdagangan dan kemungkinan besar berperan dalam hubungan diplomatik maupun ekonomi antarnegara. Sebagaimana Tiongkok di bawah Kaisar Yung-lo memanfaatkan laksamana dan pelaut Muslim untuk menyebarkan pengaruhnya ke luar negeri, Majapahit kemungkinan besar memobilisasi pelayaran Muslim di banyak pelabuhan yang ditaklukkannya atau dipengaruhinya untuk ikut serta dalam misi-misi yang lebih jauh lagi. Salah satu contoh yang masih ada dari proses ini adalah Orang Timur dari Jambi, yang konon merupakan keturunan orang-orang dari Sarawak dan Brunei yang datang ke Jambi sebagai anggota pasukan invasi Majapahit pada abad ke-14 (Tideman 1938, 78). Mungkin saja untuk menjelaskan bukti pengaruh Muslim yang dangkal dan berumur pendek di Termate pada abad keempat belas (dan jauh lebih bermasalah untuk fenomena serupa di Brunei dan Sulu), satu abad sebelum tradisi Islam yang berkelanjutan dimulai, dengan ledakan aktivitas ekspansionis di pihak Majapahit yang memanfaatkan pelaut dan prajurit Muslim.


Sebagaimana Hikayat Raja-Raja Pasai (161, teks Melayu, 102) melaporkan tentang Majapahit, "ada orang-orang yang datang dan pergi dari wilayah seberang laut yang telah tunduk kepada raja". Beberapa dari mereka tentu saja Muslim, termasuk para tawanan yang dibawa kembali oleh ekspedisi Majapahit yang berhasil melawan Pasai:


Mengenai para tawanan Pasai, Kaisar mengeluarkan dekrit yang memerintahkan mereka untuk tetap tinggal di Jawa tetapi memberi mereka kebebasan untuk menetap di mana pun mereka mau. Itulah sebabnya di Jawa terdapat begitu banyak keramat (makam suci) yang berasal dari masa penaklukan Pasai oleh Majapahit. ("Hikayat Raja-Raja Pasai", 159, teks Melayu, 100)6


Meskipun tawanan-tawanan tersebut tak diragukan lagi berisi orang-orang berpangkat tinggi, bukan di sanalah kita harus mencari cara bagaimana Islam akhirnya menembus lingkaran istana tertinggi Jawa. Di sisi lain, dalam pernikahan-pernikahan dinasti yang mempererat hubungan antara negara-negara "upeti" yang paling kuat dan Majapahit, akses ini dapat diharapkan. Meskipun Hikayat Raja-Raja Pasai memuat kisah fantastis tentang kegagalan pernikahan seorang pangeran Pasai dengan seorang putri Majapahit, justru dengan Champa-lah hubungan pernikahan ini paling signifikan.


Bahasa Indonesia: Sama seperti catatan Jawa menunjukkan raja Majapahit menikahi seorang putri Cham, catatan Cham-lah yang menunjukkan proses sebaliknya, dalam pernikahan Raja Jaya Simhavarman III dari Champa dengan seorang putri Jawa pada awal abad keempat belas. Hubungan dinasti ini cukup dekat bagi seorang raja Cham untuk berlindung di Jawa setelah serangan Vietnam di ibu kotanya pada tahun 1318 (Robson 1981, 276).7 Sejarah Melayu (109-10) melangkah lebih jauh, mengklaim bahwa seorang penguasa Champa melakukan perjalanan ke Majapahit untuk membuat penghormatannya, menjadi ayah dari seorang anak dengan seorang putri Majapahit yang kemudian tumbuh menjadi penguasa terakhir Champa sebelum ibu kotanya di Vijaya jatuh ke tangan Vietnam pada pertengahan abad kelima belas. Tentu saja hubungan antara istana Cham dan istana Jawa dan dunia Melayu tampaknya sangat dekat, terlepas dari agama, dan terlepas dari hubungan sebelumnya dengan Jawa, dengan istana Melayu-Muslimlah Cham menjadi terkait setelah jatuhnya Vijaya. Menurut Sejarah Melayu (110-11), para pangeran Champa yang kalah kemudian melarikan diri ke Melaka dan Aceh, di mana mereka menjadi Muslim. Sementara itu, sumber-sumber Makassar menunjukkan bahwa orang-orang Cham memainkan peran terhormat di sana di antara kelompok pedagang Melayu-Muslim (Sedjarah Goa, 28; Skinner 1963, 146-147, 269). Pada tahun 1607, armada Belanda mendapati bahwa kerajaan Champa yang tersisa masih memiliki hubungan yang sangat dekat dan akrab dengan Johor, dan meskipun rajanya beragama Hindu, sebagian besar istananya beragama Muslim atau pro-Muslim (Begin ende Voortgangh 1646, III: 120). Para bangsawan Cham yang mencari perlindungan di Melaka pada abad ke-15 sangat mudah menjadi Muslim (meskipun negara itu selalu toleran terhadap umat Hindu), namun mereka diduga masih menyimpan tabu.


Skenama; Peta 3 Penyebaran Islam di Asia Tenggara.

........


WARISAN PERADABAN DUNIA, KARYA DARI SUKU TERTUA NUSANTARA

 Warisan Peradaban Dunia, Karya dari Suku Tertua Nusantara. 



Jejak budaya yang menjadi identitas bangsa, 

di antara ribuan peninggalan leluhur yang masih bertahan hingga saat ini, rumah adat menjadi simbol nyata kebijaksanaan, seni dan falosofah hidup masyarakat Nusantara. Dua di antaranya yang telah mendunia adalah Rumah Adat Suku Toraja (Tongkonan) dan Rumah Adat Suku Batak (Bolon).


1. Tongkonan


Rumah adat suku Toraja, mahakarya arsitektur tradisional dari dataran tinggi Sulawesi Selatan dan Barat. Bentuk atapnya yang melengkung menyerupai perahu menjadi ciri khas yang ikonik.


Tongkonan sebagai pusat kehidupan sosial, spiritual, dan adat masyarakat Toraja. Setiap pelukan ukiran pada dindingnya mengandung makna filosofi dan kearifan tentang kehidupan, kematianbdan hubungan manusia dengan alam serta leluhur.


Keindahan dan keunikan arsitekturnya telah menarik perhatian dunia, menjadikan Tongkonan sebagai simbol warisan peradaban yang mengajarkan nilai gotong royong, kebanggaan identitas, dan keharmonisan hidup.


2. Rumah Bolon


Dari tanah Sumatera Utara, berdiri megah Rumah Bolon, rumah adat suku Batak yang mencerminkan kekuatan, keteguhan, dan kebersamaan. Rumah ini dibangun tanpa paku, hanya menggunakan pasak kayu—suatu bukti kecerdasan teknik dan filosofi kemandirian masyarakat suku Batak.


Struktur atapnya yang tinggi menjulang melambangkan semangat yang tidak pernah menyerah, sementara ukiran-ukiran khas di bagian depan rumah memuat pesan moral dan perlindungan dari kekuatan jahat.


Keunikan dan kekokohan Rumah Bolon telah membuatnya menjadi ikon arsitektur tradisional Indonesia yang diakui secara global sebagai bagian dari warisan peradaban dunia.


Makna dan Kebanggaan


Dua rumah adat ini bukan selain unik dan khas, juga di dalamnya sebagai manifestasi jiwa, nilai, dan pandangan hidup masyarakat Nusantara. Di dalamnya tersimpan filosofi yang mengajarkan

kita untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam dan Sang Pencipta.


Sebagai anak bangsa, menjaga dan melestarikan warisan ini berarti menjaga jati diri dan kebesaran peradaban Indonesia di mata dunia.


#Toraja

#Batak

#sejarah

#nusantara

TRAGEDI RUNTUHNYA KERAJAAN GOWA -TALLO (1669): PENGHIANATAN DAN PEMBANTAIAN DI TANAH MAKASSAR DAN DAERAH BUGIS LAINNYA

 TRAGEDI RUNTUHNYA KERAJAAN GOWA -TALLO (1669): PENGHIANATAN DAN PEMBANTAIAN DI TANAH MAKASSAR DAN DAERAH BUGIS LAINNYA 



Kerajaan Gowa-Tallo adalah salah satu kerajaan maritim terkuat di Nusantara pada abad ke-16 dan ke-17. Terletak di Sulawesi Selatan, kerajaan ini dikenal sebagai pusat perdagangan dan Islam di Indonesia Timur. Namun, pada tahun 1669, kerajaan ini mengalami kejatuhan tragis setelah perang besar melawan VOC dan sekutunya.


Runtuhnya Gowa-Tallo bukan hanya karena kekalahan di medan perang, tetapi juga karena pengkhianatan internal dan pembantaian besar-besaran setelahnya.


---


Latar Belakang Perang Gowa-Tallo vs VOC


Pada pertengahan abad ke-17, Gowa-Tallo berada di puncak kejayaan di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin (bergelar Ayam Jantan dari Timur). Sultan Hasanuddin menolak tunduk pada VOC (Belanda) yang ingin menguasai perdagangan rempah-rempah di Indonesia Timur.


Belanda merasa terancam oleh kekuatan maritim Gowa dan mencari cara untuk melemahkan kerajaan ini. Mereka kemudian bersekutu dengan Arung Palakka, seorang bangsawan Bugis dari Kerajaan Bone yang ingin membalas dendam terhadap Gowa.


Pada tahun 1666, VOC dan Arung Palakka melancarkan serangan besar ke wilayah Gowa-Tallo.


---


Perang dan Tragedi Runtuhnya Gowa-Tallo (1666-1669)


1. Pengkhianatan di Dalam Istana


Beberapa bangsawan Gowa mulai tidak setia kepada Sultan Hasanuddin karena merasa terancam dengan kebijakan kerasnya terhadap Belanda.


Sebagian pasukan Gowa diam-diam membelot dan bergabung dengan VOC serta pasukan Arung Palakka.


Hal ini menyebabkan pertahanan Gowa melemah, meskipun pasukan Sultan Hasanuddin berjuang mati-matian.


2. Pengepungan Benteng Somba Opu (1669)


Pertempuran paling dahsyat terjadi di Benteng Somba Opu, benteng utama Gowa di Makassar.


Pasukan Belanda yang dipimpin Cornelis Speelman dan pasukan Bugis dari Bone yang dipimpin Arung Palakka menyerang habis-habisan.


Setelah pertempuran sengit, benteng akhirnya jatuh.


3. Pembantaian Massal


Setelah kemenangan VOC dan Bone, terjadi pembantaian besar-besaran terhadap rakyat dan pasukan Gowa yang masih bertahan.


Ribuan orang dibunuh, termasuk banyak bangsawan Gowa yang setia kepada Sultan Hasanuddin.


Wanita dan anak-anak diculik atau diperbudak oleh pasukan Bone dan VOC.


Benteng Somba Opu dihancurkan, mengakhiri kejayaan Gowa sebagai kerajaan maritim besar.


4. Sultan Hasanuddin Dipaksa Menyerah


Sultan Hasanuddin akhirnya terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya (1669), yang membuat Gowa kehilangan kekuasaannya.


Gowa dipaksa menyerahkan wilayahnya kepada VOC, dan Bone menjadi kerajaan yang lebih dominan di Sulawesi Selatan.


Sultan Hasanuddin kemudian mengasingkan diri dan meninggal beberapa tahun kemudian dalam keadaan terhina.


---


Dampak dari Tragedi Ini


1. Gowa-Tallo Tidak Pernah Pulih Sepenuhnya


Setelah runtuhnya Gowa, kerajaan ini tidak pernah kembali menjadi kekuatan besar di Nusantara.


Kekuasaan di Sulawesi Selatan beralih ke Bone yang didukung oleh VOC.


2. VOC Menguasai Perdagangan di Indonesia Timur


Dengan jatuhnya Gowa, VOC semakin bebas menguasai perdagangan di Indonesia bagian timur tanpa saingan.


3. Arung Palakka Dikenang sebagai Pengkhianat


Arung Palakka dianggap sebagai pahlawan oleh orang Bugis, tetapi bagi orang Makassar, ia adalah pengkhianat yang menyebabkan kehancuran Gowa.


---


Kesimpulan


Tragedi runtuhnya Kerajaan Gowa-Tallo bukan hanya sekadar kekalahan dalam perang, tetapi juga contoh pengkhianatan, balas dendam, dan brutalitas kolonialisme. Peristiwa ini menjadi salah satu momen paling kelam dalam sejarah


#kerajaangowatallo

RAS MURNI BANGSA PALAWA YANG TERAKHIR

 Ras Murni Bangsa Palawa yang Terakhir



Kita sering mendengar Barat berbicara lantang tentang “perlindungan terhadap kaum minoritas”. Namun, jika menoleh ke belakang, sejarah justru mencatat bagaimana mereka memusnahkan bangsa-bangsa asli atas nama peradaban. Salah satu kisah paling kelam dari ironi itu terjadi di sebuah pulau kecil di selatan Australia yaitu Tasmania.


Sebelum orang Eropa datang, Tasmania adalah tanah damai. Pulau itu dihuni oleh masyarakat Palawa, suku-suku pribumi yang hidup selaras dengan alam. Mereka tidak mengenal perang, tidak mengenal besi, dan tidak menuntut siapa pun. Yang mereka inginkan hanya satu, dibiarkan hidup tenang di tanah mereka sendiri.


Namun pada awal abad ke-19, kapal-kapal Inggris merapat di pantai selatan pulau itu. Dengan pongah, mereka menyatakan bahwa tanah tersebut adalah “tanah kosong” atau terra nullius dan berhak dijadikan milik Kerajaan Inggris. Dari sinilah tragedi dimulai.


Penjajah datang membawa senjata, penyakit, dan keserakahan. Perlawanan kecil dari orang Palawa dibalas dengan kekerasan brutal. Mereka diburu seperti binatang, diusir dari kampung halamannya, dan dipaksa masuk ke kamp “peradaban”. Banyak yang mati karena kelaparan, penyakit, dan siksaan.


Sejarawan menyebut masa itu sebagai “The Black War” yakni Perang Hitam. Sebuah perang yang menandai awal genosida terhadap seluruh bangsa Palawa. Dari sekitar 15.000 jiwa, hanya segelintir orang yang bertahan hidup.


Di tengah gelapnya masa itu, seorang anak laki-laki berhasil selamat. Namanya William Lanne. Dia lahir sekitar tahun 1835, saat dunia kaumnya hampir punah. Sebagai anak yatim piatu, ia dibawa oleh pihak kolonial ke Pulau Flinders, tempat orang-orang Palawa yang tersisa “dipelihara” dalam program yang mereka sebut sebagai pendidikan dan peradaban.


Namun kenyataannya, pulau itu lebih mirip penjara.

Orang-orang Palawa hidup miskin, kelaparan, dan perlahan mati satu per satu. William tumbuh di sana, menyaksikan bagaimana bangsanya menghilang, hingga suatu hari, dia menyadari bahwa hanya dia satu-satunya lelaki Palawa murni yang tersisa di dunia.


Ketika dewasa, William meninggalkan Pulau Flinders dan pindah ke kota Hobart, ibu kota Tasmania. Dia bekerja sebagai pelaut, berpindah dari satu kapal ke kapal lain, mencoba hidup layaknya manusia biasa. Namun di mata orang Eropa, dia bukan manusia yang setara. Dia dianggap sebagai “spesimen terakhir” dari ras yang sebentar lagi punah.


Orang-orang memanggilnya “King Billy”, bukan untuk menghormatinya, tetapi untuk mengejek asal-usulnya. Julukan itu menjadi simbol penghinaan terhadap seluruh bangsanya.


Pada tahun 1869, William Lanne meninggal dunia di usia 34 tahun karena infeksi paru-paru. Tapi bahkan setelah kematiannya, dia tidak dibiarkan tenang.


Dua lembaga di Hobart, yakni Museum Kerajaan Tasmania dan Sekolah Kedokteran setempat, terlibat dalam perebutan menjijikkan atas jenazahnya. Keduanya ingin menggunakan tubuh William sebagai bahan penelitian ras manusia.


Kepalanya dipenggal, tengkoraknya dicuri, dan organ tubuhnya diambil untuk dipelajari demi “ilmu pengetahuan.” Saat itu, banyak ilmuwan Barat percaya pada teori “ras superior”, yang merupakan keyakinan palsu bahwa kulit putih lebih tinggi derajatnya daripada ras lain.


Tragedi William menjadi bukti nyata betapa sains bisa berubah menjadi alat rasisme, ketika manusia kehilangan nuraninya.


Bertahun-tahun kemudian, nama William Lanne menjadi simbol luka bagi masyarakat Tasmania. Pemerintah dan masyarakat kini berusaha menebus dosa sejarah itu, dengan mengenang kisahnya dan menuntut agar jasadnya dimakamkan dengan layak.


Referensi : 

- ABC News Australia, “William Lanne: The last Tasmanian man and the dark legacy of scientific racism”

Rabu, 05 November 2025

ABAD KE-6 HINGGA KE-7: LAHIRNYA DINASTI DAN KERAJAAN NUSANTARA

 ✨ ABAD KE-6 hingga KE-7: Lahirnya Dinasti dan Kerajaan Nusantara ✨



📜 612 M – Wretikandayun, putra dari Resi Guru Manikmaya, mendirikan Kerajaan Galuh, sebuah kekuatan baru yang tumbuh di tanah Sunda bagian timur.


👑 628 M – Tahta Tarumanagara beralih ke Linggawarman. Ia menikahkan dua putrinya, satu dengan Tarusbawa (Penguasa Sunda), dan satu lagi dengan Dapunta Hyang (Raja Sriwijaya), membentuk aliansi besar antarkerajaan.


🌊 632 M – Di pesisir utara Jawa, berdiri Kerajaan Kalingga di Jepara, konon didirikan oleh Bhanu, seorang perantau dari negeri Kalinga di India Timur.


⚜️ 648 M – Kartikeyasinga naik takhta, meneruskan pemerintahan Kalingga dengan bijaksana.


🧘 664 M – Seorang biksu dari Tiongkok, Huining, datang ke Kalingga untuk bertemu Resi Jhanabhadra, mencatat kemakmuran dan kebijaksanaan negeri itu.


⚔️ 669 M – Tarumanagara runtuh, terpecah menjadi dua kekuatan besar yaitu Sunda dan Galuh.


🏞️ 671 M – Prabu Wiragati mendirikan Kerajaan Saunggalah di Kuningan, sebagai wilayah bawahan Galuh.


👸 674 M – Maharani Shima, sosok perempuan tangguh dan bijaksana, naik tahta di Kalingga, terkenal karena hukum dan keadilannya yang keras terhadap korupsi dan ketamakan.


🌏 686 M – Sriwijaya memperluas kekuasaan hingga pesisir barat Jawa. Tarusbawa mundur ke pedalaman dan mendirikan pusat kerajaan baru di Pakuan Pajajaran (Bogor), sementara Banten dan Jakarta jatuh ke tangan Sriwijaya.


🌺 695 M – Di masa senjanya, Ratu Shima membagi Kalingga menjadi dua bagian yaitu Kalingga Utara (Mataram) dan Kalingga Selatan (Sambara), menandai lahirnya dinasti baru di tanah Jawa.


#SejarahNusantara #KerajaanGaluh #Kalingga #Sriwijaya #Tarumanagara

KRISIS PENYANDERAAN DI KEDUTAAN BESAR AMERIKA SERIKAT DI IRAN (1979–1981) “444 HARI YANG MENGUBAH DUNIA”

 🇮🇷 Krisis Penyanderaan di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Iran (1979–1981)

“444 Hari yang Mengubah Dunia”



🧩 Latar Belakang: Revolusi Iran dan Runtuhnya Sang Shah


Pada akhir 1970-an, Iran tengah bergolak. Rakyat Iran, yang telah lama muak terhadap pemerintahan otoriter Shah Mohammad Reza Pahlavi, bangkit melakukan revolusi. Pemerintahan Shah dianggap korup, pro-Barat, dan bergantung pada Amerika Serikat.


Shah dikenal karena kekuasaannya yang absolut, gaya hidup mewah, dan proyek modernisasi yang mengabaikan nilai-nilai Islam serta menekan oposisi. Ribuan lawan politik disiksa dan dibunuh oleh polisi rahasia Iran, SAVAK, yang dibentuk dan dilatih oleh CIA dan Mossad.


Pada Februari 1979, revolusi mencapai puncaknya: Shah digulingkan dan melarikan diri ke luar negeri. Iran berubah menjadi Republik Islam di bawah pimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh agama yang selama ini hidup di pengasingan.

---

🔥 Pemicu Krisis: Shah Diterima di Amerika


Masalah besar muncul pada Oktober 1979, ketika Amerika Serikat mengizinkan Shah yang sedang sakit untuk berobat di New York.

Keputusan Presiden Jimmy Carter itu dianggap sebagai penghinaan besar bagi rakyat Iran — mereka yakin AS berniat membantu Shah kembali berkuasa, seperti yang terjadi pada kudeta tahun 1953, saat CIA menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh.


Kemarahan publik meledak. Ribuan mahasiswa yang menamakan diri mereka sebagai "Mahasiswa Muslim Pengikut Garis Imam (Khomeini)" memutuskan untuk bertindak langsung.

---

⚔️ Puncak Krisis: Penyerbuan Kedutaan AS


Pada 4 November 1979, ratusan mahasiswa Iran menyerbu kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran.

Mereka berhasil menembus pengamanan dan menyandera 66 warga Amerika, sebagian besar diplomat dan staf kedutaan.


Sebagian sandera dilepaskan beberapa hari kemudian, tetapi 52 orang tetap ditahan selama 444 hari. Para mahasiswa menyebut aksi ini sebagai bentuk “perlawanan terhadap imperialisme Amerika” dan menuntut agar Shah dikembalikan ke Iran untuk diadili.

---

🕊️ Upaya Amerika Serikat: Gagal Total


Pemerintah AS segera membekukan aset Iran dan memutuskan hubungan diplomatik. Namun tekanan internasional tak membuat Iran bergeming.

Pada April 1980, Carter meluncurkan misi penyelamatan rahasia bernama Operasi Eagle Claw.


Delapan helikopter militer Amerika diterbangkan ke gurun Iran untuk menyelamatkan para sandera, namun badai pasir, kegagalan teknis, dan tabrakan di udara menyebabkan kecelakaan fatal.

Delapan tentara AS tewas, dan operasi itu gagal total — menjadi salah satu aib terbesar dalam sejarah militer AS modern.


Kegagalan ini menurunkan reputasi Jimmy Carter secara drastis dan menjadi salah satu faktor kekalahannya dalam pemilu presiden 1980 oleh Ronald Reagan.

---

⏳ Akhir dari Krisis: 444 Hari Kemudian


Negosiasi panjang akhirnya membuahkan hasil. Melalui mediasi Aljazair, kesepakatan dicapai pada 19 Januari 1981.

Iran setuju membebaskan para sandera dengan imbalan pembebasan aset Iran yang dibekukan di AS.


Pada 20 Januari 1981, tepat beberapa menit setelah Ronald Reagan dilantik menjadi presiden, 52 sandera dibebaskan dan diterbangkan ke Jerman Barat, sebelum akhirnya pulang ke tanah air.


Peristiwa ini bertepatan dengan berakhirnya pemerintahan Jimmy Carter — ironisnya, Carter sendiri yang menjemput mereka pulang sebagai utusan khusus Reagan.

---

🌍 Dampak dan Warisan Krisis


Krisis ini meninggalkan luka mendalam dalam hubungan Amerika Serikat dan Iran.

Sejak tahun 1980, kedua negara tidak lagi memiliki hubungan diplomatik resmi.

Krisis ini juga menguatkan kekuasaan Ayatollah Khomeini, memperkuat ideologi anti-Barat di Iran, dan menjadi simbol perlawanan dunia Islam terhadap hegemoni Amerika.


Di sisi lain, bagi AS, peristiwa ini menjadi peringatan pahit tentang risiko intervensi luar negeri dan diplomasi yang gagal. Hingga kini, krisis tersebut menjadi salah satu titik balik terpenting dalam sejarah hubungan Timur Tengah dan Barat.

---


📚 Sumber Referensi Akurat:


U.S. Department of State – Office of the Historian: The Iranian Hostage Crisis (1979–1981)


BBC News Archive (1979–1981)


Encyclopaedia Britannica – Iran Hostage Crisis


The Carter Center Archives


The New York Times (1981): 52 American Hostages Freed in Iran After 444 Days

LAHAN YANG MENANGIS

 Lahan yang Menangis



Di sebuah desa di tanah Nusantara pada masa kolonial, hidup sebuah keluarga kecil yang terjebak dalam penderitaan. Matahari bersinar terik di atas kepala, namun tanah yang mereka pijak terasa lebih menghanguskan daripada cahaya langit—karena tanah itu bukan milik mereka, melainkan tanah yang dipaksa untuk mereka kelola demi keuntungan penjajah.


Seorang ayah kurus kering, tulangnya menonjol seolah tubuhnya hanya tinggal rangka yang dibungkus kulit. Di sebelahnya, istrinya yang renta dan lemah, tetap menggenggam alat bajak sederhana, walau tangannya gemetar kelelahan. Kedua anak kecil mereka berdiri tanpa baju, memegang keranjang kecil berisi hasil panen yang tak seberapa. Itu pun bukan seluruhnya hak mereka—hanya sisa dari kewajiban yang harus diserahkan.


Di belakang mereka, berdiri tegak para tentara kolonial. Seragam rapi, sepatu mengkilap, senapan panjang di tangan. Mereka tidak bekerja, tapi mereka memaksa orang lain bekerja. Wajah mereka dingin, seolah tak ada rasa kasihan menyaksikan rakyat yang sudah hampir kehilangan tenaga dan harapan.


Ayah itu menatap lurus ke depan, bukan pada tentara, bukan pada tanah, tetapi pada masa depan yang entah seperti apa. Ia tahu, jika ia berhenti bekerja, keluarganya bisa kehilangan lebih banyak dari sekadar makanan. Ibu itu menunduk dengan tubuh lemah, tetapi matanya menyimpan doa agar kelak, anak-anaknya tak lagi merasakan belenggu penjajahan.


Anak-anak itu berdiri diam, belum mengerti arti kata “penjajahan,” namun mereka merasakan lapar, lelah, dan ketakutan. Mereka tidak tahu bahwa suatu hari, tanah yang penuh air mata ini akan kembali menjadi milik bangsanya sendiri—namun dengan harga yang sangat mahal.


Hari itu, sawah bukan hanya tempat bercocok tanam. Sawah menjadi saksi ketidakadilan, tempat di mana manusia menjadi budak di tanah leluhurnya sendiri.


Namun dalam setiap langkah kaki yang lemah, ada doa, ada harapan, dan ada keberanian diam-diam. Karena meski tubuh mereka diperintah, hati dan mimpi mereka tetap merdeka.

KISAH "BLUSUKAN" SOEKARNO

 Kisah "blusukan" Soekarno ke rakyat kecil meliputi kunjungan tanpa direncanakan ke kampung dan sawah, seperti saat ia menyamar di Pasar Senen yang gagal karena dikenali oleh seorang tukang bangunan. Ia juga pernah berjalan kaki dan makan sate di pinggir jalan saat malam takbiran, di tengah kondisi kesehatannya yang kurang baik. Blusukan ini bertujuan untuk berinteraksi langsung dengan rakyat dan merasakan langsung kehidupan mereka. 



Blusukan di Pasar Senen

Soekarno pernah melakukan penyamaran di Pasar Senen untuk berbaur dengan rakyat, namun upaya itu gagal karena seorang tukang bangunan mengenalinya dari suaranya.

Kisah ini menunjukkan keinginannya untuk dekat dengan rakyat, meskipun rencananya tidak selalu berhasil. 


Makan sate di malam takbiran

Saat masih menjadi presiden, Soekarno berjalan kaki dari kediamannya menuju rumahnya yang berjarak sekitar empat kilometer.

Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan tukang sate pikulan dan memesan 50 tusuk sate ayam.

Ia kemudian makan sate dengan bersahaja di tepi jalan, dekat selokan, yang ia sebut sebagai "jamuan kenegaran pertama" bagi Republik Indonesia. 


Blusukan ke sawah

Soekarno juga pernah melakukan blusukan ke sawah dan kampung di Yogyakarta untuk mengamati kehidupan rakyat secara langsung.

Kunjungan ini dilakukannya secara spontan untuk melihat kondisi rakyatnya, termasuk mereka yang sedang mencari nafkah. 


Semangat untuk "blusukan"

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa blusukan adalah bagian penting dari Soekarno untuk merasa tetap terhubung dengan rakyatnya, yang ia sebut sebagai "napasnya akan berhenti jika ia tidak bisa berjumpa dengan rakyatnya". 

Selasa, 04 November 2025

TURKI MURKA! ISRAEL BERKALI-KALI MELANGGAR PERJANJIAN, "KAMI SIAP KIRIM PASUKAN KE GAZA

 Turki Murka! ISRAEL BERKALI-KALI MELANGGAR PERJANJIAN, "Kami Siap Kirim Pasukan ke Gaza!"



Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan akhirnya angkat bicara lantang! Dalam pernyataannya sepulang dari kunjungan ke kawasan Teluk, Erdogan menegaskan bahwa Israel telah berulang kali melanggar kesepakatan gencatan senjata di Gaza


"Pihak Hamas mematuhi gencatan senjata, bahkan secara terbuka menyatakan komitmennya. Tapi Israel terus melanggar," ujar Erdogan tegas.


Erdogan juga menyoroti sikap Amerika Serikat dan komunitas internasional yang dianggap terlalu pasif menghadapi pelanggaran Israel. la menegaskan bahwa Israel harus dipaksa menepati janji melalui sanksi dan penghentian penjualan senjata


Lebih jauh, Ankara menyatakan kesiapannya untuk bergabung dalam satuan tugas penjaga perdamaian di Gaza, bahkan membuka peluang pengiriman pasukan militer atau sipil demi menegakkan stabilitas dan membantu rekonstruksi wilayah yang porak poranda akibat serangan tanpa henti


Namun, sikap tegas Turki ini justru membuat Israel kebakaran jenggot, dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menolak keras kehadiran pasukan Turki di Gaza. Meski begitu, Erdogan tetap tenang dan menegaskan:


"Kami siap memberikan segala bentuk dukungan bagi Gaza. Pembicaraan terus berjalan."


Dunia kini menanti langkah nyata Turki apakah ini akan menjadi titik balik bagi upaya perdamaian sejati di Gaza?


#PrayForGaza #TurkiUntukKeadilan #ErdoganBersuara #SavePalestine #PeaceForGaza #StopTheWar #FreePalestine #VoiceForHumanity #StandWithGaza #TurkiMurka

KETIKA SUHARTO BERTEMU MUSSO

 KETIKA SUHARTO BERTEMU MUSSO



Diutus Panglima Besar Soedirman untuk menyelidiki situasi Madiun yang tengah memanas, Soeharto justru bertemu dan berdiskusi dengan orang nomor satu PKI.


Oleh : Hendi Jo


📷: Letnan Kolonel Soeharto melapor kepada Sri Paku Alam VIII saat melakukan kegiatan latihan perang di Yogyakarta pada 1949. (ANRI).


SURAKARTA, September 1948. Di jembatan Jurag, hari itu Kapten Imam Sjafi’i dari Brigade ke-13 Kesatuan Reserve Umum (KRU) Divisi Siliwangi menangkap seorang perwira yang dicurigai bagian dari pasukan komunis. Tadinya, Sjafi’i (kelak menjadi menteri urusan keamanan di era Kabinet 100 Menteri), akan langsung mengeksekusi sang opsir tersebut, namun muncul ide untuk meminta izin terlebih dahulu kepada wakil komandan-nya, Mayor Omon Abdurrachman.


Peristiwa itu sempat terekam dalam sebuah dokumen pribadi milik almarhum Kolonel (Purn.) Omon Abdurrachman berjudul Menoempas Pemberontakan PKI 1948. Dikisahkannya, pada suatu senja, di tengah ketegangan antara Divisi Siliwangi yang pro pemerintahan Mohammad Hatta dengan Komando Pertempuran Panembahan Senopati yang sebagian anggotanya bersimpati kepada kaum komunis, salah seorang anak buahnya yakni Kapten Imam Sjafi’i melapor bahwa pasukannya telah meringkus seorang “letnan kolonel PKI” di dalam kota Surakarta.


“Pak, saya menangkap overste PKI, apa saya bereskan saja?” ujar Sjafi'i.


Omon yang harus berhati-hati dalam melakukan tindakan, tidak serta merta setuju dengan usulan Sjafi’i. Dengan tegas, dia melarang tindakan gegabah itu. Diperintahkannya sang kapten untuk membawa “perwira PKI” ke hadapannya.


Betapa terkejutnya Omon, begitu melihat yang dibawa Sjafi’i adalah Letnan Kolonel Soeharto, yang dalam dokumen itu dia sebut sebagai Komandan Resimen Yogyakarta. Selanjutnya secara sopan dan penuh hormat, Omon menginterogasi Soeharto dan menanyakan maksud kehadirannya di Surakarta.


Dalam keterangannya, Soeharto menyatakan bahwa dirinya baru menghadiri undangan rapat konferensi para pimpinan TNI yang diselenggarakan oleh Kolonel Djokosujono, salah satu tokoh FDR (Front Demokratik Rakjat, organ taktis orang-orang kiri), di Balai Kota Madiun.


“Apakah overste juga merupakan anggota FDR?” selidik Omon.


“Bukan. Saya komandan resimen TNI di Yogya. Tapi saya datang karena memang diundang oleh mereka,” jawab Soeharto.


“Komandan kami (Letnan Kolonel Sadikin), juga diundang mereka. Tapi beliau tidak pergi karena sama sekali bukan simpatisan (komunis),” cecar Omon.


“Saya pergi atas perintah Panglima Besar, Pak Dirman,” kata Soeharto.


“Adakah surat perintahnya?”


“Ada.”


“Bolehkah saya melihatnya?”


“Boleh,” ujar Soeharto, seraya memberikan sepucuk surat kepada Omon.


Begitu melihat isi surat keterangan yang langsung ditandatangani oleh Panglima Besar Soedirman, Omon baru yakin bahwa Soeharto bukan bagian dari FDR. Setelah minta maaf, dia lantas memerintahkan Sjafi’i untuk mengantar Soeharto ke perbatasan Surakarta-Yogyakarta hingga selamat.


Soal penangkapan itu disebut juga oleh Soeharto dalam otobiografinya, Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya. Namun, peristiwa penangkapan itu, menurut versi mantan presiden RI itu sangat berbeda dengan apa yang dikisahkan Omon.


Diceritakan oleh Soeharto bahwa kedatangannya ke Madiun adalah atas perintah Panglima Besar Soedirman. Tujuannya, selain menyelidiki situasi Madiun, juga mengemban misi mencegah “perwira kesayangan Soedirman” (Letnan Kolonel Soeadi Soeromihardjo) bergabung dengan FDR. Sesampai di Surakarta, Soeharto tak bisa bertemu dengan Soeadi.


Soeharto baru bisa bertemu dengan Komandan Brigade ke-5 Komando Pertempuran Panembahan Senopati itu di Wonogiri. Lalu disampaikanlah pesan Soedirman itu kepada Soeadi. Dalam otobiografinya Soeharto, tak jelas benar bagaimana respons Suadi atas pesan Panglima Besar itu. Alih-alih mengiyakan atau menolak, Soeadi malah mengajak Soeharto pergi ke Madiun untuk bisa melihat sendiri situasi di sana.


Sesampai di Madiun, mereka berdua langsung menuju gedung keresidenan. Mereka bertemu dengan Soemarsono (gubernur militer Madiun versi FDR) dan Musso (tokoh utama PKI). Tadinya Soeadi akan mempertemukan langsung Soeharto dengan Amir Sjarifuddin yang menurut Soeharto sudah dia kenal baik.


“Tetapi Sjarifoeddin masih tidur waktu itu. Jadi saya tidak bisa bertemu dengan dia,” ungkap Soeharto.


Namun Soeharto sempat bertemu dan berbincang-bincang dengan Musso. Kepada Musso secara langsung dia mengaku sempat menyayangkan terjadinya permusuhan antara pihak Musso-Amir Sjarifuddin dengan Sukarno-Hatta, justru ketika Republik Indonesia tengah melawan Belanda.


Musso menyatakan bahwa dia sepakat dengan kata-kata Soeharto. Namun dia menyatakan bahwa dirinya tidak ingin berkompromi saat melawan Belanda. Inilah yang menurut Musso, menjadikan Sukarno-Hatta tidak menyenanginya dan bermaksud ingin menghancurkannya.


“Bung Harto, kalau saya akan dihancurkan, saya akan melawan,” ujar Musso.


Sepulang dari Madiun itulah, Soeharto ditahan oleh pasukan Divisi Siliwangi. Penahanan itu menurut Soeharto sendiri hanyalah kesalahpahaman: dirinya dikira sebagai Mayor Soeharto, seorang komandan batalyon Panembahan Senopati yang pro FDR.


Setelah senjatanya dilucuti, Soeharto kemudian dibawa ke markas Brigadeke-13 Divisi Siliwangi di gedung walikota Surakarta. Di sana dia diinterogasi. Namun menurut versi Soeharto, dalam situasi kritis itu tetiba muncul komandan Brigade ke-13 Divisi Siliwangi, Letnan Kolonel Sadikin yang tentu saja mengenal-nya.


“Lho, mengapa kamu di sini?” tanya Sadikin.


“Saya sendiri tidak tahu, mengapa saya ditahan di sini,” jawab Soeharto.


Setelah menyampaikan tujuannya berada di Madiun dan Surakarta, Sadikin menjadi mafhum. Dia kemudian memerintahkan anak buahnya untuk membebaskan Soeharto.


“Dia teman kita. Letnan Kolonel Soeharto dari Yogya,” ungkap Sadikin.


Soeharto pada akhirnya selamat sampai kembali ke Yogyakarta. Dia lantas melaporkan semua hasil peyelidikannya kepada Soedirman. Beberapa hari kemudian, pasukan pemerintah bergerak untuk menumpas FDR. Padahal menurut Soemarsono, dia sudah mengajak Soeharto untuk berkeliling Madiun demi melihat situasi sebenarnya.


Yang menarik, sebelum pulang ke Yogyakarta, Soeharto dititipi surat oleh Amir Sjarifuddin untuk diberikan kepada Presiden Sukarno. Isi surat itu adalah permintaan agar Sukarno turun tangan menengahi soal Insiden Madiun tersebut. Demikian menurut Soemarsono kepada Harry A. Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak.


Apakah surat itu sampai ke tangan yang bersangkutan? Hingga kini hal itu belum jelas benar. Namun secara tersamar, Soeharto sendiri telah membantah anggapan Soemarsono itu dengan mengatakan bahwa dirinya tak sempat bertemu dengan Amir saat berkunjung ke Madiun.


Sumber: Historia


#Menolaklupa #September #Sejarah #pki #madiun #Gestapu #soekarno #indonesia #soeharto #LubangBuaya #ExplorerIndonesia

MARI CARI TAU

 Mari Cari Tau.!🕵(Candhi Båråbudhur) adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini terletak kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi dengan banyak stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbesar di dunia, sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia. Kata Wikipedia



 Dalam bahasa Indonesia, bangunan keagamaan purbakala disebut candi; istilah candi juga digunakan secara lebih luas untuk merujuk kepada semua bangunan purbakala yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara, misalnya gerbang, gapura, dan petirtaan (kolam dan pancuran pemandian). Asal mula nama Borobudur tidak jelas, meskipun memang nama asli dari kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku "Sejarah Pulau Jawa" karya Sir Thomas Stamford Raffles. Raffles menulis mengenai monumen bernama borobudur, akan tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis. Satu-satunya naskah Jawa kuno yang memberi petunjuk mengenai adanya bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365.


Tidak ditemukan bukti tertulis yang menjelaskan siapakah yang membangun Borobudur dan apa kegunaannya. Waktu pembangunannya diperkirakan berdasarkan perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang lazim digunakan pada prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9. Diperkirakan Borobudur dibangun sekitar tahun 800 masehi. Kurun waktu ini sesuai dengan kurun antara 760 dan 830 M, masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah, yang kala itu menguasai tahta Kerajaan Medang. Pembangunan Borobudur diperkirakan menghabiskan waktu 75 - 100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825. 🕵🇮🇩


Sumber: 

 "Largest Buddhist temple". Guinness World Records. Guinness World Records. Diakses tanggal 27 January 2014.

 

 "Guinness names Borobudur world's largest Buddha temple". The Jakarta Post. Wednesday, July 04 2012, 4:50 PM. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-11-05. Diakses tanggal 27 January 2014.


#candiborobudur #sejarah 

DEMAK, PEWARIS BUKAN PENGHANCUR MAJAPAHIT

 Demak, Pewaris Bukan Penghancur Majapahit



Dalam senyapnya masa akhir abad ke-15, tanah Jawa menyaksikan satu babak besar perubahan. Di barat laut, sebuah kerajaan baru bangkit—Demak. Dan di timur, Majapahit, kerajaan besar yang pernah menyatukan Nusantara, perlahan kehilangan sinarnya. Banyak yang mengira, kejatuhan Majapahit terjadi karena munculnya Demak. Namun sejarah yang ditulis oleh para ahli berkata sebaliknya: Majapahit runtuh oleh luka dari dalam dirinya sendiri.


Majapahit berdiri megah sejak tahun 1293 M di bawah Raden Wijaya. Di masa Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, wilayahnya membentang luas, dari Sumatra hingga Maluku. Namun, setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, kejayaan itu mulai retak. Sejarawan Slamet Muljana menulis bahwa setelah wafatnya sang raja, muncul perebutan kekuasaan antara dua garis keturunan—Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi. Pertikaian itu dikenal sebagai Perang Paregreg (1405–1406 M), perang saudara yang menumpahkan darah bangsawan dan melemahkan jantung kerajaan.


Perpecahan internal ini menjadi titik awal kehancuran Majapahit. Sistem pemerintahan goyah, daerah taklukan melepaskan diri, dan perdagangan merosot tajam. Catatan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern menjelaskan bahwa faktor ekonomi dan perubahan jalur perdagangan internasional turut mempercepat kemunduran itu. Setelah Selat Malaka dikuasai oleh Kesultanan Malaka, perdagangan rempah Nusantara tidak lagi melalui pelabuhan Majapahit.


Bencana alam pun ikut memperburuk keadaan. Letusan gunung berapi dan banjir di dataran rendah Jawa Timur membuat wilayah pertanian rusak. Dalam situasi kacau inilah, sisa-sisa kekuatan Majapahit mencoba bertahan di bawah Brawijaya V, raja terakhir yang disebut dalam naskah Pararaton. Namun kekuasaan Majapahit sudah rapuh, istananya di Trowulan akhirnya ditinggalkan sekitar tahun 1478 M.


Barulah beberapa dekade kemudian, di tanah Demak, muncul sosok Raden Patah, seorang bangsawan muda yang diyakini masih memiliki hubungan darah dengan Brawijaya. Ia mendirikan Kesultanan Demak, bukan untuk menghancurkan Majapahit, melainkan untuk melanjutkan warisan politik dan budaya Nusantara dalam wajah baru: kerajaan Islam.


Anthony Reid dalam Southeast Asia in the Age of Commerce menyebut Demak sebagai simbol transisi dari era kerajaan agraris ke maritim, dari Hindu-Buddha ke Islam, dari Majapahit menuju masa baru sejarah Nusantara.


 “Demak bukan penghancur Majapahit,” tulis para sejarawan. “Ia adalah pewarisnya—yang meneruskan semangat persatuan di bawah panji baru.”


Referensi:


1. Slamet Muljana – Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (LKiS, 2005)


2. M.C. Ricklefs – Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 (Serambi, 2008)


3. Anthony Reid – Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680 (Yale University Press, 1988)


4. Pararaton dan Negarakertagama (sumber naskah Jawa Kuno)

Senin, 03 November 2025

200 TAHUN PERANG JAWA

200 Tahun Perang Jawa, Saatnya Revolusi Melawan Oligarki "Penjajah Gaya Baru"



Yogyakarta – Di tengah pusaran kekuasaan yang makin elitis dan arah bangsa yang kian kabur, suara dari jantung Tanah Jawa kembali bergema. Bukan sekadar mengenang, melainkan memanggil: Bangkitkan kembali karakter bangsa!


Dua abad setelah meletusnya Perang Jawa (1825–1830), para budayawan, seniman, aktivis 80-an dan 98, serta pemimpin lintas generasi berkumpul dalam forum reflektif di Jawa Village Resort, Pandowoharjo, Sleman, Kamis malam (17/7/2025). Turut hadir dalam forum ini antara lain: Dr. Untoro Hariadi, Dr. Arie Sujito (Wakil Rektor UGM), Taufik Rahzen, Evi Idawati, M. Toriq, Danuri, Idham Samawi, Rahadi Saptata Abra (Ketua Patra Padi - Trah Diponegoro), hingga Wakil Menteri Sosial RI, Agus Jabo Priyono.

Mereka menyerukan semangat Diponegoro belum selesai.

“Jika Diponegoro hidup hari ini, ia akan tetap melawan oligarki, menolak manipulasi kekuasaan, dan berdiri membela rakyat kecil,” tegas Sigit Sugito, budayawan senior yang juga Ketua Panitia acara.


Wakil Menteri Sosial RI, Agus Jabo Priyono, yang hadir dalam forum ini, menegaskan bahwa peringatan 200 tahun Perang Diponegoro harus menjadi titik balik kebangkitan nasional.

“Perjuangan Diponegoro adalah upaya mempertahankan jati diri bangsa dari dominasi asing dan elite lokal yang berkhianat,” tegas mantan aktivis 98 itu.

Agus Jabo juga mengkritik arah bangsa yang menurutnya kian kehilangan kompas karakter. “Bangsa kita seperti kerumunan yang kehilangan arah. Kita butuh character building seperti yang dulu dipesankan Bung Karno.”

Namun, ia melihat harapan pada pemerintahan baru di bawah Presiden terpilih Prabowo Subianto, yang menurutnya sedang berusaha membangun kemandirian bangsa, memutus mata rantai imperialisme dan oligarki, serta memperkuat fondasi ekonomi nasional.

“Saya menyaksikan Pak Prabowo sedang berupaya membangkitkan mata batin bangsa ini,” ujarnya.


Peringatan ini bukan seremoni mati. Ia adalah panggilan sejarah. Saat oligarki menguat, ketika sistem demokrasi direduksi menjadi panggung elit, kita butuh arah yang jernih — bukan sekadar ganti rezim, tapi ganti cara berpikir.

Diponegoro mengajarkan bahwa bangsa yang besar tidak bisa dibentuk oleh keturunan, uang, atau teknologi semata. Ia tumbuh dari iman, keberanian moral, dan semangat membela rakyat.

Dua ratus tahun lalu, Diponegoro berdiri seorang diri, menolak tunduk. "Hari ini, kita tidak boleh berdiri diam. Jika kita sungguh bangsa merdeka, maka sudah waktunya kita bertanya: masihkah kita punya karakter, atau sudah sepenuhnya menjadi bayangan kekuatan asing?" Agus Jabo mengakhiri pidato nya. 


Bangkitkan Diponegoro

Lebih lanjut Sigit Sugito menegaskan, semangat Diponegoro bukan romantisme sejarah, tapi energi moral untuk menghadapi realitas hari ini: oligarki yang mencabut akar kedaulatan, elite yang berkhianat, dan sistem yang kian jauh dari keadilan sosial.

Diponegoro selama ini disalahpahami. Banyak yang mengira masyarakat Jawa identik dengan pasrah dan 'nrimo'. Tapi, sebagaimana ditegaskan Sigit Sugito, karakter Jawa versi Diponegoro justru keras kepala terhadap ketidakadilan, berani melawan meski sendirian, dan bersandar pada kekuatan spiritual.

“Ia bukan sekadar panglima perang, tapi sufi pejuang. Perang bukan soal tahta, tapi jihad moral. Ini bukan ambisi pribadi, melainkan laku suci,” kata Sigit.


Anti-Feodalisme

Sebagai bangsawan Mataram, Diponegoro menolak hidup nyaman di istana. Ia memilih tinggal di Tegalrejo, membaur dengan rakyat, santri, dan petani. Ia menjalani apa yang disebut “bunuh diri kelas” — meninggalkan statusnya demi berdiri di sisi wong cilik.

“Laskar Diponegoro dibangun bukan atas nama darah biru, tapi integritas. Petani dan guru ngaji bisa memimpin. Itu pelajaran penting untuk hari ini: kepemimpinan harus lahir dari moral, bukan warisan,” ujar Sigit. 

Diponegoro menyatukan banyak elemen dalam satu barisan: petani, ulama, bangsawan progresif, hingga rakyat adat. Gotong royong menjadi fondasi. Karakter Jawa bukan kompetitif, tapi komunal dan penuh rasa.

“Orang Jawa itu sabar bukan karena takut. Tapi karena batinnya teguh. Saat waktunya tiba, mereka bisa meledak seperti gunung spiritual,” tambah Sigit dengan suara bergetar. (Tor)


BELANDA SIAPKAN KURSI EMPUK, PUTRA PAPUA INI JUSTRU MEMILIH SETIA PADA MERAH PUTIH

 BELANDA SIAPKAN KURSI EMPUK, PUTRA PAPUA INI JUSTRU MEMILIH SETIA PADA MERAH PUTIH Bagi sebagian orang, kekuasaan adalah tujuan akhir. Namu...